Tukang Parkir Pasar dan Pembelajaran Pentingnya Hari Ini

"Woyyyy... buuuuk.. woooyyyy... wuuuuuwwhh.." teriak tukang parkir pasar langganan tadi pagi dengan tatapan tanjamnya. 


Aku yang baru saja keluar dari pasar sambil menenteng kantong berisi belanjaan heran melihat tingkah abang parkir itu. Setelah melihat ekspresi galaknya waktu berteriak, kemudian aku lempar pandanganku ke arah tatapannya. Ternyata dia meneriaki ibu-ibu yang baru mulai memacu motor ke luar area parkir menuju jalan raya. 

Pura-pura tidak dengar, begitu yang terlihat. Karena jarak dan teriakan si abang parkir ini sangat memungkinkan ibu seharusnya menoleh. "Mungkin nggak bayar parkir." Otomatis pikiranku menuduh si ibu begitu setelah melihat situasinya.

Heran saja, kenapa sampai seperti itu si abang parkir. Karena setiap hari pasaran dia akan kebanjiran receh 2000an untuk tiap kendaraan yang dititipkan padanya. Satu teras ruko dengan ukuran lumayan luas ditambah pinggiran pasar selalu penuh jejeran puluhan motor yang dia amankan. Silih berganti dari pagi sampai siang.


Pasti banyak uang yang bisa dia dapat dalam setengah hari bekerja kan. Selain itu, dia termasuk orang yang ramah menurutku. Walaupun gayanya yang slengek'an. Lagipula aku juga pernah tidak bayar parkir, gara-gara uang yang dibawa belanja kebetulan pas banget. Tidak ada sisa sepererpun. 

Setelah bilang baik-baik tidak bisa bayar, abangnya santai-santai saja. "Nggak apa-apa." Katanya, sambil tetap menuntun motorku ke pinggir jalan raya. Tapi kenapa tadi dia bisa sampai galak begitu ke ibu-ibu yang pergi tanpa bayar parkir?

Karena selama menjadi pelanggannya, aku tahu betul kebiasaan si abang parkir ini. Dia bukan tipe tukang parkir yang tiba-tiba muncul pas kita mau pulang saja dan yang waktu kita datang dia entah masih di belahan bumi bagian mana. 

Dia akan merapikan motor-motor yang baru datang dan dititipkan padanya. Saat si pelanggan pulang, dia akan sigap menarik motor dari barisan dan dituntun ke pinggir jalan agar si pelanggan tinggal nengkreng di motor lalu tancap gas. Kadang juga dia dengan suka rela membantu menata belanjaan di atas motor, terutama ibu-ibu yang belanjaan banyak.

Jawaban dari pertanyaanku tentang sikapnya tadi ternyata berhubungan dengan attitude sodara-sodara.

Mungkin karena merasa sudah akrab dengan aku karena sering menitip motor padanya begitu tiba saat giliran si abang menuntun motorku yang siap dibawa pulang, tiba-tiba dia bilang "Ibu tadi nggak bayar. Tahu-tahu pergi." Aku jawab saja, "Ya udah ikhlasin aja, mungkin duitnya habis buat belanja tadi." 

Aku sempat kaget disusul anggukan saat mendengar jawabannya, "Kalau bilang nggak punya uang gitu malah saya nggak apa-apa. Tadi saya mintain uang dia diem aja sambil buka-buka dompet. Trus saya tinggal dulu ngeluarin motor yang lain kok dia malah kabur. Kalau kayak gitu kan bikin kesel." Dia jawab begitu dengan nada biasa dan mimik wajah seperti biasanya tidak emosi atau marah.

Dia hanya merasa tidak dihargai, begitu yang aku tangkap dari yang dia sampaikan. Memang sikap yang baik pada orang lain akan membuatnya merasa dihargai. Jika seseorang sudah merasa dihargai, tentu perlakuan pada kita akan baik juga. Komunikasi yang baik juga tidak kalah perlu dipelajari oleh siapapun. Kalau saja si ibu bilang jika kondisinya tidak ada uang untuk membayar jasa parkir, pasti akan dimaklumi. Dan tidak perlu terjadi peristiwa yang "bikin malu" tadi.

Memang bicara itu menjadi hal yang sangat sulit untuk sebagian orang. Padahal dengan mengkomunikasikan sesuatu akan lebih melegakan. Orang lain tahu permasalahan kita dan mereka berusaha memaklumi keadaan kita.

Sebuah pelajaran banget kan~

Dari peristiwa kecil bisa dijadikan materi penting untuk kehidupan. Menghargai orang lain dan belajar berkomunikasi jadi poin penting dari pelajaran abang parkir hari ini. 

"Apa susahnya ngomong?, bilang aja mau nya gimana? Susahnya dibagian mana? Ayo kita cari solusinya!" Begitu sederhananya tujuan berbicara. Dan untuk si ibu, aku yakin banget untuk beberapa minggu bahkan bulan pasti kalau ke pasar akan lewat jalan lain dan tempat parkir yang jauh dari jangkauan abang ini. Sekian curhatnya. Semoga bahagia semuanya. :D

Jangan suka bangun kesiangan, nanti jodohmu dipatok ayam.

Related Posts

4 comments:

  1. Apa susahnya ngomong? Susah banget nggun, padahal cuma ngomong kangen ke dia. Wkwkwk
    Tp emg sepakat bgt, dimanapun dg siapapun kita kudu jaga sikap. Kudu saling menghargai, tp nggak jarang juga aku sering kesel ke tukang parkir, karena biasanya abis bayar parkir, trus ngloyor pergi.. Tp nggak semua tukang parkir gitu sih

    ReplyDelete
  2. Kalo saya lagi ke pasar walaupun kenal sama tukang parkirnya tetep tak kasih ,dianya si kadang gak usah gitu tapi tak kasih karena dia udh berjasa ngejaga motor ku hehe

    ReplyDelete
  3. Aku termasuk tipe yang suka "kabur" dari tukang parkir padahal. Hahaha. Tapi kalau sampai ditungguin terus pura-pura ngerogoh duit kemudian kabur, itu sungguh terlalu sih. Dapat pelajaran baru ini. Terima kasih 🙇‍♂️

    ReplyDelete
  4. Pernah parkir mobil keabisan receh. Ngasih 100ribuan abangnya gak pny kembalian. Dilaci mobil adanya receh seribuan sama yang seratusan. Saya kasih semua ke abang parkir, eh dia ngambil yang seribunya aja. Yang ratusan dikembalikan katanya udah gak laku:)

    ReplyDelete