Semoga Tak Bertemu Lagi


Sebenarnya ini cerita lama bersemi kembali, gara-gara abis ambil uang di atm jadi keinget peristiwa sekitar setahun lalu. Walaupun sudah lumayan lama tapi kalau ingat masih nggak bisa nahan ketawa. Langsung aja lah aku bawa ke dalam ceritanya. Kembali ke masa setahun silam. Kuy lah!

Pagi yang indah, walaupun nggak ada suara kicauan burung dan bau embun. Adanya cuma suara knalpot-knalpot motor yang diadu di parkiran kost. Manasin mesin, entah kenapa anak-anak pada cari perkara sama tuh mesin. Aku sih sama sekali nggak mau ikut campur urusan mereka dan juga karena nggak penting. Sepagi ini sudah ada kabar bahagia buatku. Ini baru penting. Subuh tadi dapat sms dari ibu di seberang pulau waktu baru buka mata, begini smsnya. "Nok, semalem ibu transfer uang. Lupa mau bilang. Coba nanti dicek ya." Bibir merekah setelah baca smsnya, sampai iler nggak kekontrol lagi. Ini harus segera ditindak lanjuti urusannya. Hehe

Ya secara transferan bulanan kan suatu yang paling ditunggu-tunggu para pelajar rantauan kayak aku gini. Apalagi banyak barang-barang bulanan yang sudah hampir habis.

Jadilah aku buat agenda belanja hari ini. Ambil uang di atm lalu lanjut ke toko murah langganan bulanan, lagian hari ini nggak ada kuliah. Begitu rencanaku.

Singkat cerita, sampailah aku di lokasi atm tarik tunai di kampus. Ada dua mesin atm jadi satu ruangan yang sepi, aku pilih yang paling dekat dengan pintu. Tapi sepertinya mesin atmnya sedang lelet, lama banget prosesnya. Sambil menunggu aku menoleh kanan ke arah pintu. Ada yang datang. Mas-mas bertubuh tinggi, berkulit putih dan berbahu bidang mulai membuka pintu dan ambil posisi depan mesin atm di sebelahku. Hupp...Aku pura-pura fokus di depan monitor atm yang masih juga lemot. Dalam hati aku bilang, "Tampaknya hari ini jadi lebih cerah yah". Sambil cekikikan dalam hati. Hehe 

Cekikikanku terhenti seketika karena hidungku mencium bau asing entah apa. Dahiku mengkerut mulai nggak tahan, ku jepit lubang hidungku dengan jari telunjuk dan jempol. "Ihh.. Bau apa nih. Bangke ya. Ini kartu nggak keluar-keluar lagi" kataku dengan nada pelan tapi yakin.

Tak disangka, tak dinyana ada balasan dari orang sebelahku, "maaf mbak, kelepasan". Aku langsung melebarkan mataku yang masih menghadap monitor menanti kartu atm keluar tadi dan menoleh pelan ke arah sumber suara itu sambil melongo dongo.

Mas bahu bidang yang ngomong. Dia langsung jalan lewat belakangku, keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi. 

Jadi mas itu pemilik baunya. Silent but deadly banget mas, nyiksa.
Tak mau keracunan gas hidrogen sulfida aku langsung nyusul ikut keluar pas kartu atmnya muncul.

Buat mas nya. Makasih mas udah jujur sama aku, semoga kita nggak ketemu lagi biar mas nggak inget malunya hari ini. (^v^,)?

Related Posts

3 comments: