Ijazah Sekolah Tinggi Tidak Akan Membuatmu Menjadi Kaya

Selamat lulus wisuda

Semakin membludaknya lulusan perguruan tinggi saat ini seperti menjadi momok bagi banyak orang. Ada yang berpendapat "zaman semakin keras, sudah bergelar strata saja masih menganggur apalagi yang tidak". Pun ada yang punya pendirian "Tidak perlulah kuliah, lihat itu si A sudah sekolah tinggi masih saja menganggur atau itu si B kuliah dan bidang kerjanya tak sinkron mana gajinya kecil".

Semua bebas berpendapat sebagai buah pikiran dari semua yang telah terjadi di sekelilingnya. Semua yang terjadi dan apa yang ia petik dari tiap kejadian tidak akan sama pada tiap orang.

"Buat apa sekolah tinggi? Sudah mahal-mahal bayar kuliah gajinya masih kalah dengan yang tidak lulus sekolah."

Berkaca dari keberhasilan tokoh dunia yang tidak lulus sekolah tidaklah sedikit. Thomas A. Edison, A. Einstein, Bill gates, Mark zuckerberg, Walt disney, M. Dell, Steve jobs dan lain-lainnya. Tokoh Indonesia pun ada seperti Bob sadino, Susi pudjiastuti, Chairil anwar, Dahlan iskan, Deddy corbuzier dan sebagainya. Nama-nama tersebut hanya sebagian kecil dari tokoh yang bisa berhasil tanpa ijazah. Berbagai latar belakang yang membuat tokoh-tokoh tersebut tidak sampai pada kelulusan sekolah tinggi. Tapi karena semangat, kerja keras, bakat alami juga kegigihan bisa mengantarkannya pada sebuah kata berhasil, miliarder bahkan. Bila ingin berpatokan pada contoh-contoh di atas harus yakin dulu, sudahkah memiliki jiwa yang kuat dan pantang menyerah? Atau punyakah pemikiran di atas manusia rata-rata? Bila iya, maka ijazah tidak diperlukan lagi untuk sukses disini. Karena sebenarnya kesuksesan hanya karena ijazah pun tidak pernah ada, semua membutuhkan proses dan kerja keras. Ijazah tidak akan membuatmu menjadi kaya.

Baca juga: 6 Tips Mencari Pekerjaan

Berbalik ke arah yang berpatokan pada pendidikan. Menurut KBBI (kamus besar bahasa Indonesia) diartikannya pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan: proses, cara, perbuatan mendidik. Sedangkan mendidik adalah memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Dari arti kata-kata tersebut sangat jelas bahwa dalam pendidikan bukan tentang bagaimana membentuk manusia kaya. Atau bukan bagaimana agar manusia bisa mencetak uang yang baik dan benar. Pengertian tersebut merujuk pada pembentukan pola pikir, karakter dan sikap. Walaupun pendidikan bukan hanya diperoleh dari bidang formal tapi peran pendidikan formal sebagai pembentuk karakter tokoh intelektual dan akademis tidak bisa diremehkan. Karena banyak tokoh yang menjadi wajah suatu tempat bahkan negara di mata dunia terlahir dari pendidikan formal.

Foto wisuda penerimaan ijazah

Soekarno, B.J. Habibie, Susilo bambang yudoyono, Najwa sihab, Martha tilaar, Sri mulyani, Boyke dian nugraha dan lainnya. Tokoh yang bisa menjadi wajah atau tameng yang akan sangat diperhitungkan oleh dunia luar dari pembodohan.
Beberapa jabatan sangat membutuhkan title untuk memperoleh kepercayaan bahwa ilmunya dapat diterapkan. Bagaimana bila seorang presiden, dokter, pengacara, atau guru tidak memiliki title dibidangnya, apakah masih bisa mempercayakan anak, saudara atau teman di bawah tanggung jawab mereka?

Indonesia memang belum memiliki sistem pendidikan yang 100% efektif untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Berganti mentri pendidikan maka juga harus pasang kuda-kuda bergantinya kurikulum. Masih meraba-raba kemungkinan tercapainya tujuan dan menjadikan pelakon pendidikan (guru dan siswa) sebagai alat praktiknya. Tapi saya mengingat suatu perkataan dari seorang pengajar saya dulu, "Bukan dimana kamu sekolah, tapi bagaimana kamu sekolah". Pernyataan tersebut bisa diartikan, walaupun sistem pendidikan yang masih proses percobaan tapi bila diimbangi dengan cara bersekolah yang bertujuan baik maka hasilnya juga akan baik. Melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi adalah kesempatan yang tidak semua orang bisa capai. Banyak yang benar-benar ingin kuliah tapi karena berbagai alasan keinginan tersebut tidak terpenuhi. Tapi tak sedikit juga yang sudah kuliah malah menyia-nyiakannya dengan alasan salah jurusan, pilihan orang tua, dan lain sebagainya.

Pendidikan yang seharusnya menekankan pada pembentukan pola pikir justru sekarang hanya dihitung dari sebuah peringkat, kertas dan penghargaan. Anak-anak yang sekolah dituntut menjadi yang utama dengan ranking. Mereka berlomba-lomba untuk mendapat sebuah nominal tanpa memperoleh makna dari prosesnya. Sehingga yang didapat hanya sebuah kertas berisi angka. Walaupun hal itu juga penting tapi bila tujuannya hanya mengejar ijazah, ranking, penghargaan juga tidak benar. Terbukti dengan semakin maraknya oknum yang membeli ijazah hanya untuk memenuhi topengnya agar terlihat berpendidikan. 

Lalu seharusnya sekolah tinggi saja dengan kondisi sistem pendidikan yang masih berubah-ubah atau tidak perlu sekolah saja sekalian? Semuanya tergantung kepada tiap individunya, bagaimana cara berpikir masing-masing. Memang sekolah atau tidak sekolah pada akhirnya yang dituju adalah dunia kerja tapi menggantungkan pekerjaan dan gaji yang besar pada ijazah adalah ketidakbenaran. Sebagai sebuah perbandingan, lebih baik langsung praktik atau teori dulu. Seorang ilmuan akan berteori dahulu sebelum praktik, sedangkan pebisnis akan mengutamakan praktik tanpa banyak berteori. Keduanya pun memiliki persentase yang sama pada keberhasilan dan kegagalannya, 50% saja. 

Berwirausaha membuat makanan


Bila yang disebut sukses adalah sebuah materi, menghasilkan harta maka berwirausaha tanpa sekolahpun bisa. Karena bila usaha masih dibarengi dengan pendidikan formal tidak bisa fokus dan belum akan maksimal hasilnya. Tapi bila merasa masih perlu bimbingan dalam membentuk pola pikir dan pembentukan karakter serta pendalaman ilmu maka bersekolahlah yang benar. Semua usaha dan doa yang maksimal akan memiliki hasil yang maksimal juga. Selain itu juga indikator dari sukses menurut seseorang tidak pasti sama dengan orang lain. Lakukan yang terbaik saja dan apapun hasilnya jangan sampai membuat kita merasa sombong dan merasa lebih hebat dari orang lain. Setuju dengan satu baris lirik lagu band wali, hidup indah bila mencari berkah. Salam damai (^_^)v

Related Posts

31 comments:

  1. walau bagaimanapun pendidikan tetap hrs no.1 ya mba, meski ujungnya memang ga menjamin keberhasilan yg tinggi.. tp ilmunya ttp abadi lho ya

    ReplyDelete
  2. Penting mbak dan standar pendidikannya sampai apa juga beda tiap orang. Ilmunya akan tetap abadi mbak kalau dibagi,soalnya biasanya kalau saya ga mengulang karena dibagi lagi pasti lupa hehe

    ReplyDelete
  3. Setiap orang memiliki pendapatanya masing-masing tentang pendidikan... saya pun punya.. tapi bagaimanapun juga.. pendidikan formal,, dengan berbagai kontroversinya ada sisi positif di dalamnya

    ReplyDelete
  4. Iya mbak. Namanya beda kepala pasti beda pemikiran dan pendapat.
    Benar mbak,mau bagaimana jg pasti ada sisi positifnya 😊

    ReplyDelete
  5. kenapa bisa seperti itu?:
    1. meski sudah berijasah tapi otak kosong
    2. tidak sinkron. smk komputer, kuliah ekonomi dll
    3. yah faktor keberuntungan lah

    ReplyDelete
  6. ada tetangga saya tuh lulusan sd malah jadi derut perusahaan

    ReplyDelete
  7. jadi dia itu dulu setelah lulus sd gak sekolah lagi karena urusan ekonomi karena belum ada dana bos seperti sekarang. dia bantu2 orang tua kemana-mana, saat remaja dia bekerja di perusahaan swasta sebagai kuli/buruh untuk membantu ekonomi keluarga. dari hasil kerjanya sering dia beli buku apa saja yang penting buku.

    dari buku2 tersebutlah membuat otaknya full dan sering memberikan usulan2 kepada teman diperusahaan tersebut, lambat laun karirnya mulai naik menjadi mandor atau kepala bagian dan seterusnya sampai sekarang dia sudah menjadi direktur utama di perusahaan tersebut.

    sarjana sekarang kadang2 terlalu gengsi karena sudah lulusan s1 gak mau tuh kalo bukan kantoran

    ReplyDelete
  8. Kemauan dan kerja keras memang punya andil besar ya. Klo kesadaran membaca itu bisa dimiliki seseorang pasti makin kaya ilmunya. Tapi jarang yg mau baca2 gitu jaman sekarang,kalah sama gadget. Kalau yg sekolah senang membaca malah makin mantap :D

    ReplyDelete
  9. Bila belum bisa meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi, usahakan jangan lelah untuk terus belajar atau bila perlu langsung terjun mencari pengalaman. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul,mencari pengalaman dan terus belajar supaya otak juga tidak tumpul ya :)

      Delete
  10. Pendidikan dengan berjenjang tetap penting, terlepas dari semua permasalahan yg disebutkan, pengertian sukses itu tergantung pencapaian yg ingin dicapai, hanya saja perlu pemahaman bhw sukses tdk melulu tentang materi atau kedudukan kembali lg tergantung individunya jg sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Belum tentu sama ya mbak sukses yang dimaksud seseorang dengan orang lain :)

      Delete
  11. Setuju Mba, pendidikan sejatinya bukan soal akhir nantinya mendapatkan uang, tapi pendidikan adalah proses manusia menjadi lebih baik dan tepat guna dalam hal bersikap, bersifat, bermasyarakat dan bermanfaat dalam hal apapun. Banyak orang-orang hebat yang lahir dari hasil perjuangan bukan sekedar gelar semata.

    Gelar penting, namun inisiatif dalam berkarya dan berguna jauh lebih penting mengalahkan gelar itu sendiri.

    ReplyDelete
  12. Setuju banget mbak... Yg penting kita bisa melakukan yg terbaik.. Ukuran sukses org memang berbeda2, kl aku memaknani sukses=bersyukur.. Gitu sih, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bersyukur tiada henti ya mbak. Salam sukses mbak ella. Aamiiin :D

      Delete
  13. Pendidikan itu pening mba, terlepas dari sukses atau gak itu tergantung rezeki dan takdir. Selama ada kesempatan memdapatkan pendidikan yg tingi kenapa tidak, minimal buat diri senfiri dan sekitar, jika lbh bisa digunakan lg untuk membantu orang 😁😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau penduduk Indonesia berpikiran seperti bang idris alangkah majunya dunia pendidikannya
      saya juga setuju yang seperti itu :)

      Delete
  14. saya bukan seorang sarjana, mengenyam bangku kuliah hanya 6 bulan saja
    bukan tidak mementingkan pendidikan, karena memang ingin cepat terjun ke dunia kerja
    akhirnya ambil jalan pintas untuk kursus
    meskipun OT sempat kecewa, dn orang2 terdekat menyayangkan keputusan yg saya ambil.. tp saya bisa membuktikannya dengan prestasi

    pendidikan itu sangat penting, sperti yg di jabarkan di atas.. Mau jadi presiden terus gak sekolah.. itu hal yg hampir tidak mungkin bahkan sdh pasti tidak mungkin

    Tapi jganan sampai kuliah mengejar tittle hanya karena ikut2an atau gengsi semata, nah yg sprti ini yg jadinya tidak berkualitas

    soal kaya, sukses itu smua punya sudut pandang sendiri..selagi masih bs dan ada kesempatan meraih gelar yg tinggi
    kenapa tidak? tidak ada ilmu yang sia sia di dunia ini, jika kita mau berusaha berbagi dan mencari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting bisa bertanggung jawab dengan pilihannya. Kalau pilih sekolah ya sekolah yang benar kalau pilih tidak sekolah dan melanjutkan mimpinya ya harus istiqomah.
      Apapun hasilnya pasti akan puas nantinya kalau hasil kerja keras sendiri kan.
      bangga kalau bisa berhasil dan berprestasi ya mas :)

      Delete
  15. Belajar sih bisa dimana saja dan kapan saja. Bagi seseorang yang disiplin dan pekerja keras, tidak harus datang ke sekolah untuk bisa belajar. Tetapi, orang malas seperti saya bisa otak kosong kalau tidak datang ke sekolah. Karena gak mungkin mau belajar sendiri, hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga sih hehehe
      Mungkin karena terbiasa membaca kalau di suruh guru di sekolah jadi kalau ga ada yg suruh malas baca ya mbak :D

      Delete
  16. Judulnya duh hehehe
    Anw, saya setuju dengan pemikirannya. Saya selalu terkagum-kagum bagaimana para tokoh dunia mengubah peradaban dengan hanya bermodal tekad yang kuat dan pantang menyerah. Bill gates, steve jobs, ahh mereka adalah orang orang yang luar biasa.

    Saya pernah mendengar pepatah : tekad adalah kekuatan terbesar umat manusia!

    Dan hal tersebut telah menuntun saya untuk membuktikannya. Whislist saya di tahun 2019 mendatang : Menjadi seorang Dosen TANPA kuliah sarjana!

    Bagaimana bisa? Dan ternyata, Tuhan mempercepat keinginan tersebut di penghujung 2017, dengan hanya bermodal ijazah DIII!

    The power of tekad. Sekolah memang penting, namun sekolah kehidupan tentu lebih penting.

    Apalagi, sekarang sekolah hanya menjadi tempat belajar saja, tidak lagi sebagai tempat pendidikan yang lebih memanusiakan manusia. (Disclaimer : hanya pendapat pribadi)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar,sekolah kehidupan memang yang paling banyak mengajarkan tentang banyak Hal yang tidak diajarkan di lembaga manapun.
      Orang yang berhasil biasanya yang mempelajari setiap pelajaran kehidupan,bertekad menjadikan impiannya nyata. Kerja keras dan doa,luar biasa terbukti pada anda salah satunya :)

      Selamat akhirnya sudah menjadi dosen :D

      Delete
  17. Setuju aja deh karena saya sendiri tidak sekolah tapi alhamdulillah otak dan pekerjaan saya tidak kalah dengan kuliahan,

    Dulu saya sampe di jauhin orang sedesa karna ga sekolah, katanya masa depan nya bakalan suram, tapi nyatanya saya tidak seperti yang mereka caci makikan ke saya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang tidak perlu ditiru adalah sikap menghakimi orang sedesa itu. Rezeki seseorang punya jalannya masing2.
      Untungnya mas mayuf jg bukan tipe orang yg mudah dilumat makian :)

      Delete
  18. Menurut saya, Sekolah tidak harus di formal, menuntut ilmu tak harus di sekolah formal, tapi semangat terus belajar dan melakukan hal yang di sukai itu anugrah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sip.. benar. nggak semua orang mau belajar teus menerus. bahkan di suatu wadah sekolah formal yang diajarkan belajar juga masih malas :D

      Delete
  19. Ijazah Tinggi memang tdk membuat kaya, tpi berkat ijazah tsb sehingga kita mengerti cara untuk menuju kekayaan.

    Ngomong pengen kaya apa Mbak ? Kaya hati, kayak teman, atau kayak artis. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha kaya apa yaa
      Mungkin kaya hati saja. Jadi kalau hatinya dihancurkan masih ada serepnya πŸ˜‚

      Delete
  20. Menurut saya, untuk menjadi kaya harus banyak uang bukan banyak ijazah, benar gak ya? wkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar tanpa diragukan πŸ˜‚
      Dan dapat banyak uang ga bisa dengan jual ijazah yg banyak itu td hehe

      Delete