Mengerti Bahwa Ada Suatu Pengorbanan Dibalik Setiap Adanya Hadiah

Saat hari-hari penting dalam hidup atau kapanpun. Bagaimana rasanya mendapat hadiah dari seseorang? Senang kalau saya. Apalagi hadiah dari orang yang berpengaruh dalam hidup kita. 

Kebahagiaan Saat Memberi hadiah
Kebahagiaan Saat Memberi

Banyak bentuknya kalau berbicara tentang hadiah. Karena tidak hanya  berupa barang pendefinisiannya. Ada yang menyebutkan sebuah pertolongan adalah hadiah. Teman, pacar, suami, istri, dan anak juga diibaratkan sebuah hadiah.

Tak akan ada tak bahagia di setiap pagi.
Untuk hati yang selalu menerima, bahwa mendapat kesempatan hidup sekali lagi adalah hadiah.

Bahkan masalahpun tetap disimbolkan sebuah hadiah dari sang pencipta. Tapi untuk konsentrasi di artikel ini, hadiah yang diulas adalah berupa barang atau benda.

Bukan tentang nominal harganya. Mahal atau murah tentu saja relatif.  Penilaian dari pemberian itu sendiri yang justru membuat hadiah makin bernilai istimewa. Kalau penilaian hadiah hanya sebatas harga saja. Ya sudah, berarti yang mahal yang paling bernilai. Ada yang lebih mahal, maka yang murah tidak diperhitungkan.

Seringnya memberi hadiah atau menemani teman membeli hadiah untuk seseorang. Saya jadi tahu, hal yang tidak terpikirkan saat menerima hadiah itu. Yaitu, hal apa yang telah dilakukan seseorang demi memberi hadiah untuk kita.

Pernah dulu, teman yang ingin memberi hadiah untuk hari jadi satu tahun dengan kekasihnya. Saat pembelian hadiahnya saya yang dijadikan teman hunting. Persiapan yang bukan hanya sehari atau dua hari. Bahkan beberapa bulan untuk sekedar memberi hadiah untuk kekasihnya itu.

Bukannya lebay atau berlebihan. Tapi memang dia memikirkan untuk ide barang yang dia ingin berikan saja harus bertanya dari pendapat teman-teman yang lain. Juga karena dulu masih berstatus mahasiswa, jadi anggaran hadiahnya hasil pemangkasan uang bulanan.

Hal yang saya lihat, bukan tentang so sweetnya cara mereka saling menyayangi satu sama lain saja. Tapi pengorbanan dibalik hadiah itu. 

Berbeda momen juga dulu pernah, diminta menemani seorang teman membeli hadiah untuk ulang tahun ibunya. Sebuah tas cantik untuk ibu yang bekerja sebagai pegawai kecamatan. Dia menyisihkan sebagian uang yang dikirimkan ibunya tiap bulan untuk kado ulang tahun ibunya. *terrmuteerr* :D

Ya memang sumber uangnya dari ibunya. Didasari keinginan besarnya ingin memberi sesuatu untuk sang ibu tapi belum bisa mendapat uang sendiri. Menjadikannya harus menahan hasrat jajan untuk beberapa bulan. Karena budget tas yang dia ingin berikan lumayan mahal untuk ukuran mahasiswa.

Cerita lain dari seorang laki-laki yang ingin memberikan kado ulang tahun untuk sang kekasih. Rela pergi ke pusat perbelanjaan seorang diri. Dan yang dia dapati di dalam sana adalah dirinya bingung harus membeli apa dan ke toko sebelah mana. Untungnya tidak bingung lewat mana kalau dia ingin pulang. Karena tersesat diantara pengunjung yang padat.

Kalau pengalaman pribadi, saat ingin memberi sedikit kebahagiaan untuk ibu. Berulang tahun yang entah ke berapa waktu itu. Rencananya ingin memberi sesuatu yang spesial dan tidak ada yang jual.

Masih sangat ingat, karena dulu ingin memberi kue ulang tahun hasil buatan sendiri. Padahal, belum pernah sama sekali buat kue sendirian. Kalau jadi juru takar sih sudah sering. Apalagi juru mencuci alat-alat yang selesai digunakan membuat kue. Sering, sangat malah. 

Setelah rangkaian panjang proses pembuatan kue bermodal resep dari google. Katakanlah saja berhasil, walaupun tanpa deskripsi dan bukti nyata. Percayalah saja bahwa kue yang dibuat adalah sebuah kue yang cantik.

Terbukti saat kue disuguhkan pada ibu, disambut dengan senyumnya yang manis. Setelah selesai menyanyikan lagu dan berdoa, lalu dilanjutkan prosesi pemotongan kue. Tiba-tiba ibu bertanya, "Ini lambang apa?" Lalu saya jawab, "Oh.. itu bentuk bunga tapi nggak mirip ya. Hee" maklum lah, kuenya terlalu cantik.

Senyum dan raut wajah ibu yang menyenangkan saat itu membuat saya puas dengan hasil uprek di dapur. Kebahagiaannya seperti menular kepada saya saat itu. Ibu tidak perlu tahu apa saja yang harus saya lalui demi kue itu. Sebab semua terbayar dengan raut bahagia ibu saya menerimanya.

Dari hal-hal sederhana yang pernah terjadi di sekitar, membuat saya memaknai hadiah bukan saja hanya sekedar pemberian. Tapi di dalamnya ada pengorbanan, walaupun sedikit. Bahkan ada yang sampai bersusah payah.

Saat menuliskan artikel ini jadi teringat kisah yang sedang booming di jagad Indonesia beberapa waktu lalu. Dilan dan Milea. Tak ayal bila Dilan yang memberi hadiah hanya sebuah TTS (teka teki silang) menjadi istimewa untuk Milea. Dalam buku yang mengisahkan tentang mereka disebutkan bahwa semua pertanyaan di TTS sudah Dilan isi sampai begadang.

Saya merasa, Milea menilai hadiah itu dari pengorbanan dibaliknya yang membuat hadiah itu dianggap istimewa. Selain itu juga didukung cara dilan yang tergolong berbeda atau unik. Kalau hanya dinilai dari sekedar harga, tentu Milea tidak akan sampai terjatuh-jatuh mencintai Dilan.

Sebenarnya dari hadiah itu adalah keinginan besar dari dalam diri pemberi untuk menunjukkan perasaan kepada seseorang. Suatu perasaan dan harapan agar dapat diberi reward dari yang diberi hadiah. Ingin dianggap keberadaannya, syukur dianggap istimewa.

Waktu berharga, untuk sekadar membeli dan memilih hadiah yang dirasa cocok dengan kita. Walaupun sekarang online shop tersedia bermacam-macam. Lazada, Bukalapak, Shopee, blibli, dan lain-lainnya. Jadi berbelanja bisa dilakukan dimana saja. Namun disela-sela kegiatannya, dengan rela pikirannya harus disisipin acara pemilihan hadiah.

Apalagi kalau hadiah itu adalah buah tangannya sendiri. Tentu niatnya makin besar dan pengorbanan waktunya lebih banyak.

Pengorbanan uang, tentu saja harus mengeluarkan uang lebih banyak dari biasanya untuk membeli hadiah. Terlebih lagi jika uang itu benar-benar disisihkan untuk membeli hadiah, tentu menjadi makin istimewa nilainya.

Dari berbagai pengalaman disekitar membuat saya selalu menilai sebuah hadiah dalam artian luas. Membayangkan bagaimana kisah dibalik adanya hadiah itu bisa sampai ke tangan penerima. 

Karena itu, setiap pemberian dari seseorang, baiknya untuk dihargai. Walaupun kadang menerima sesuatu yang bukan "diri kita banget." Dengan hadiah kita jadi merasa diperhatikan dan dipahami. Saat berada di posisi pemberi juga tentu ada kebahagaian lebih bila penerima merasa senang atas hadiahnya. Bukan begitu? Tentu saja iya. ^_^

The power of giving
Hargai Setiap Pemberian 

Apapun niat di balik pemberian hadiah itu, ada nilai kedekatan antara pemberi dan penerimanya. Saat hadiah itu bermanfaat atau setidaknya menyenangkan si penerima. Akan ada rasa puas dari pemberi saat melihatnya.

Sebaliknya, bila penerima terlihat tidak terlalu suka dengan hadiahnya. Pasti perasaan kecewa dan tidak dihargai akan terasa. Dan pengorbanan yang kemarin seperti tak berguna. :(

Jadi, siapa yang ingin memberi saya hadiah?  Acung tangan! (^^,)!

Jangan suka bangun kesiangan, nanti jodohmu dipatok ayam.

Related Posts

14 comments:

  1. sangat mulia hati Mbak, karena memberikan hadiah buat ibunya. Pemberian hadiah akan membuat orang senang, jika hadiahnya tepat sasaran, misalnya memberikan hadiah buat saya, eaaaa....!!!

    Saya sudah kasih hadiah buat embak, yakni " bewe " . Kasih hadiah lainnya mana berani, ntar ditimpuk oleh pasangannya, hahahah.......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih hadiah bewe nya kang nata haha

      Nanti saya balik kasih hadiah bewe ke blog nya deh πŸ˜‚

      Delete
  2. tulisan inspiratif mba ! :) terimakasih. at least mengerti akan kehidupan yg lebih indah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh.. Terimakasih mas. Semoga bermanfaat 😁

      Delete
  3. Apapun hadiahnya intinya Ikhlas dalam memberikannya...πŸ˜„πŸ˜„ kalau semuanya sudah seperti itu.... Insyaallah yang menerima pasti akan senang dan merasa dihargai...πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

    Yaa seperti contoh kue ultah diatas meski bentuk bunganya seperti apa saya juga tidak tahu....Tapi karena Ikhlas jadi Sang ibu pun tersenyum manis..πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„


    Untuk Anggun ....Heemmm!!! Kasih apa yaa...???😱😱😱😱

    Nahlooo!!..😱😱😱

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap mas satria.. Sebenernya kalau sudah benar2 ikhlas mau yg dikasih ga suka jg udah ga dimasukan hati ya.. Yg paling susah emang ikhlas itu deh 😁

      Hayoo kasih apaaa .. Hahaha

      Delete
  4. setuju sih, hadiah itu gak melulu barang, tapi apa yang dibutuhkan :)

    ReplyDelete
  5. Replies
    1. Salam kenal jg kak.. Setelah berkunjung balik saya jadi pengen punya mobil 😁

      Delete
  6. Hadiah oh hadiah, kenapa saya jadi ingin diberi hadiah juga? Hehehe. saya setuju, hadiah tidak hanya dilihat dari harga tetapi dari apa yang sudah diperjuangkan demi bisa memberikan hadiah.

    ReplyDelete
  7. Saya setuju banget, hadiah terbaik itu bukan yang termahal, semurah apapun harga barang yang dijadikan hadiah ya tetap hadiah. Kita Kn ngga tau berapa kali dia ga jajan cuma buat membelikan hadiah itu kepada kita.

    ReplyDelete
  8. bukan tugas kita menentukan keikhlasan dalam memberi namun jangan pernah sekali berhenti memberi kerana mungkin dalam satu pemberian itu ada nilai keikhlasan yang tiada bandingan di sisi-Nya

    ReplyDelete
  9. memang semua di dunia ini tak ada yang gratis, semua butuh pengorbanan dan perjuangan untuk mendapatkannya.

    ReplyDelete