Telaga Biru Semin, Pesona Tersembunyi di Sudut Terpencil Yogyakarta

Ujung timur Yogyakarta ternyata memiliki tempat yang layak dikunjungi pecinta alam Indonesia raya. Telaga yang berlokasi di dusun Ngentak, desa Candirejo, Semin, Gunung kidul, Yogyakarta, memiliki sebutan telaga biru semin. Lokasi yang berbatasan dengan kabupaten Sukoharjo, Jawa tengah membuat tempat ini disebut telaga biru Sukoharjo oleh beberapa orang.

Telaga biru semin batuan kapur
Matanya hijau bukan karena lihat uang

Telaga yang terbentuk karena hasil penambangan batu kapur itu meninggalkan lubang yang menganga. Lama kelamaan lubang tersebut terisi air hujan dan dengan aktivitas alam air hujan yang bercampur batuan kapur berubah warna menjadi biru. Hal tersebut yang membuat tempat ini disebut telaga biru. Saat-saat tertentu, tempat ini sangat ramai pengunjung yang ingin nyemplung ke dalam airnya.

Mencari jati diri di bawah pohon jati

Bukan hanya satu lubang yang terbentuk di sana, banyak bekas galian lain yang membentuk telaga di tempat ini. Sampai saat saya dan partner segala suasana saya, kang Zuki singgah di sana pun aktivitas penambangan masih eksis dilakukan para penambang. Jadi bisa dipastikan akan ada telaga-telaga lain yang akan terbentuk disana.

Luka menganga sang telaga

Ternyata alam mempunyai cara untuk mengobati lukanya sendiri. Walaupun luka menganga terus dilakukan manusia terhadapnya, seiring waktu ia malah membalasnya dengan indah. Dibalasnya dengan menyuguhkan pemandangan yang luar biasa.

Pose Indiahe :D

Tidak ingin larut dalam ke-baper-an terlalu lama, saya fokus menikmati pemandangan yang terlihat dari atas bukit. Danau biru, persawahan, bukit dan lekuk-lekuk jalan yang terlihat seperti miniatur pedesaan. Duduk sejenak melihat pemandangan didampingi senyum manis dari sang partner. Sesekali mata kriyip-kriyip dihempas semribit angin yang sedikit borongan, syahdunya siang mendung kala itu :D

Nyaris mimisan

Tidak ada biaya tiket untuk masuk ke area objek wisata satu ini karena belum ada tarif resmi dari pemerintah. Pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir 2000 rupiah untuk motor dan 5000 rupiah untuk mobil. Murah bukan untuk menikmati segarnya suasana alam seperti telaga biru semin ini.

Anginnya bikin sleepy

Tempat ini relatif mudah ditemukan. Saat mengunjungi tempat ini, kami sama sekali tidak tahu daerah tersebut. Tapi dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi, kami menggunakan bantuan Google map. Jangan malu-malu juga untuk bertanya pada penduduk ramah sekitar jika tidak ingin sesat di jalan. 

Kesini ya!🔨

Silahkan berkunjung kesini dan sesekali melihat bagaimana alam mempunyai cara untuk membalas manusia. Happy me (^.^,).

Menikmati Sunyi yang Indah di Gunung Sepikul Sukoharjo

Banyak destinasi tersembunyi di alam Sukoharjo yang belum banyak diketahui kaum traveler. Baru-baru ini baru ngehits suatu tempat wisata alam yang keren, gunung sepikul atau lebih cocok disebut bukit sepikul. Lokasinya berada di desa Gentan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah.


Beberapa waktu lalu saya dan blogger tampan dari Surabaya, Kang Zuki membuktikan kerennya gunung ini. Sekitar 1,5 jam perjalanan dari Solo menuju gunung sepikul dengan sepeda motor matic. Karena memang menuju kesana kami hanya bermodal google maps dan sesekali bertanya pada orang. Menurut informasi, panorama di gunung sepikul sempurna di kunjungi pada sore hari saat alam mulai diselimuti jingganya warna senja. Tapi kami yang memang suka hal berbeda mendatangi tempat tersebut justru di pagi hari. Belum ada jam 8 kami sudah parkir motor di lahan parkir yang belum ada tukang parkirnya. Jadi yang seharusnya ada biaya parkir motor sebesar 2000 rupiah kami tidak harus melakukan kewajiban tersebut.


Langsung kami mulai pendakian, tidak membutuhkan banyak tenaga atau keterampilan khusus untuk mendaki gunung sepikul. Kemiringan sekitar 40-60 derajat hanya sedikit membuat ngos-ngosan sekedarnya saja.  Medannya relatif berbatu, sebagian ada tanah yang licin juga jadi tetap harus berhati-hati. Untuk tiba di puncak sebenarnya hanya membutuhkan waktu sebentar, mungkin sekitar 20menit. Tapi karena kami memang menikmati perjalanannya jadi sebentar-sebentar berhenti dan mengambil beberapa foto sembari menunggu kabutnya hilang.


Menurut cerita rakyat, gunung ini disebut gunung sepikul karena gunung ini sebenarnya kembar. Disebelahnya ada gunung serupa yang terpisahkan oleh sawah dan jalan. Jadi seolah dua gunung ini adalah beban pikulan. Selain itu juga ada cerita lain tentang gunung ini. Awalnya gunung ini adalah batu sebagai bahan yang digunakan pangeran Bandung Bondowoso untuk membangun seribu candi dalam semalam. Seribu candi itu akan dipersembahkan kepada Roro Jonggrang sebagai syarat diterimanya cinta sang pangeran. Karena memang sang putri tidak mencintai pangeran jadi sang putri melakukan cara licik untuk menggagalkan usaha sang pangeran. Suasana pagi hari dibuatnya lebih cepat tiba agar candi yang dibuat Bandung Bondowoso itu tidak berhasil sampai seribu. Karena sang pangeran membuat candi dengan bantuan jin yang hanya bisa bekerja di malam hari, spontan para jin menghentikan kegiatannya dan meninggalkan batu-batu yang dibawanya begitu saja. Salah duanya saat ini membentuk bukit sepikul yang kami kunjungi ini. Cinta memang kadang serepot dan serumit itu :D


Dibalik cerita rakyatnya, ada fakta tentang gunung ini. Tempat ini pernah menjadi lokasi syuting pendekar yang memiliki jurus kunyuk melempar buah, bersenjata andalan kapak naga geni dengan kode akses 212. Yups benar, Wiro sableng murid dari Sinto gendeng. Pendekar idola generasi 80-90an.


Terlepas dari fakta dan cerita rakyatnya, gunung ini bisa menyihir pengunjungnya untuk betah berlama-lama di sana. Setelah kabut tersingkap, terlihat petakan-petakan sawah yang hijau di bagian bawah dan seluas mata memandang disejajarkan dengan pemandangan gunung dan bukit. Dimanjakan memang menyenangkan dan cinta itu berawal dari mata. Lalu disini mata yang dimanjakan dengan tenangnya, bagaimana saya tidak jatuh cinta pada penciptanya.



Walaupun betah tapi terik matahari yang mulai cekit-cekit di kulit membuat kami memutuskan untuk segera turun. Baiklah, pagi yang menyenangkan cukup untuk menentukan mood sepanjang hari. Setelah kunjungan, saya sepakat dengan informasi yang saya peroleh bahwa disana adalah tempat yang layak disebut keren. Jika ingin membuktikannya juga, silahkan mengunjungi gunung sepikul ini juga. Happy traveling (^.^,).

Pasar Triwindu Sore Hari

Pergi ke pasar dalam benak kita pasti langsung terbayang membeli baju-baju model terbaru, sepatu, keperluan sehari-hari atau obralaaann.. waaaawwww...
Tapi bagaimana kalau pergi ke pasarnya adalah pasar barang antik? Beda ceritanya tentu. Beberapa waktu lalu saya mengunjungi Pasar Triwindu yang berada di jalan Diponegoro, Keprabon, Banjarsari, Solo, Jawa tengah.

Barang antik

Pasar ini merupakan pasar yang khusus memamerkan barang-barang antik. Pasar mulai buka pada pukul 09.00 sampai 16.00 WIB. Begitu tiba di pelataran parkir, langsung disuguhkan bangunan dengan arsitektur khas jawa. Atap limasan yang memayungi bangunan tersebut membuat pasar ini menjadi semakin menarik untuk disinggahi.

Barang antik

Bagian dalam pasar terdiri dari kios-kios seperti pasar pada umumnya, berjejer dan berhadap-hadapan hanya dipisahkan oleh lorong-lorong sebagai sarana untuk melintas. Saat melintasi lorong-lorong tersebut suasana mistis terasa. Mungkin karena saya mengunjungi pasar yang menjadi salah satu trademark kota Solo ini saat keadaan pasar mulai sepi. Ketika tiba disana juga pada jam nyaris tutup sehingga hanya terlihat pemilik kios-kios di dalam pasar mulai bersiap-siap untuk pulang. Suasana yang gelap karena cuaca yang mendung dan sedikit gerimis juga mungkin menjadi faktor lainnya. Walaupun begitu saya tetap tenang karena saya tidak sendiri melainkan bersama pria gagah dengan tinggi badan lebih dari 170cm, Akang zuki namanya. Saya merasa aman walaupun dalam suasana yang sedikit horor. Hehe.

Pasar antik


Ini merupakan kali pertama kunjungan kang zuki menyambangi kota Bengawan. Walaupun lebih dulu menjadi penghuni kota solo saya lebih suka disebut partner jalan-jalan karena untuk disebut guide saya sangat tidak cocok, nggak hafal jalan :(

Pasar barang antik Jawa tengah

Tujuan kami pergi ke pasar ini adalah karena sama-sama penasaran, bukan karena salah pasar cari obralan. Keadaan yang sepi itu kami jadikan kesempatan yang bagus untuk mengabadikan kunjungan kami dan sangat menguntungkan untuk mendapatkan jepretan yang bagus.

Barang antik

Pedagang memperoleh barang dagangannya biasanya dari keluarga yang masih keturunan ningrat. Barang juga bisa diperoleh dari mantan abdi dalem kerajaan yang karena alasan membutuhkan dana dan tidak tahu pasaran harga sehingga barang dibeli dengan harga yang murah tapi kemudian dijual kembali dengan harga selangit di pasar.
Ketersediaan barang kuno semakin sedikit dan sulit diperoleh sehingga para pedagang berinisiatif untuk membuat barang tiruan dengan mencontoh barang yang asli. Sebab itulah barang yang dijajakan disana ada yang produksi baru dan ada juga yang memang barang kuno. Untuk membeli barang-barang di pasar ini harus berhati-hati karena bila tidak bisa membedakan mana barang yang benar-benar antik menurut umurnya maka kita akan merasa ditipu. Harga barang dipasar ini ditawarkan cukup mahal, jadi jangan sungkan-sungkan untuk menawar separuh harga hingga disepakati harga yang cocok.


Beberapa barang pernah saya lihat namun sudah lama tak menjumpainya lagi seperti piring dan gelas berbahan seng, kaleng krupuk dan setrika arang pernah saya lihat bahkan menggunakannya. Banyak barang lain yang baru pertama kalinya saya lihat disini seperti koin kuno, hiasan-hiasan dinding unik, lampu dan meja hingga patung-patung batu.


Bagi pecinta barang-barang antik, pasar ini bisa menjadi tempat rekomendasi yang bagus. Keramahan orang-orang Solo yang dijumpai disana akan membuat kita betah mondar mandir di pasar Triwindu, walaupun hanya melihat-lihat.


Pasar yang menjajakan barang-barang antik ini memang cocok untuk disinggahi pelancong yang mengunjungi kota budaya ini, seperti akang Zuki inilah.


Jalan-jalan sore di kota Solo lebih menyenangkan dengan orang yang seru di tempat yang menarik. Ceritanya menjadi unik dan berbeda. Jangan lupa masukan dalam daftar kunjungan anda di Solo, Pasar Triwindu. Happy Always (^.^,).