Ternyata Benar, Kalau Bingung Jangan Lupa Pegangan

Sudah 2 minggu artikel blog belum diupdate. Padahal targetnya cuma posting satu artikel saja tiap minggunya, syukur bisa lebih. Sebagai pemenuhan target resolusi yang dibuat untuk tahun ini. Lah boro-boro lebih, satu saja masih menggantung tak kunjung kering bak jemuran di musim hujan.

Awalnya karena memang daya imun tubuh sedang menurun. Maka terdukunglah rasa malas yang selalu siap siaga menggoda. Ya karena memang harus istirahat juga agar cepat kembali fit (pembelaan).

Ada beberapa ide yang kemarin-kemarin sempat lewat di pikiran. Dan poin-poinnya sebagian sudah dipindah ke aplikasi note di hp. Sebagiannya lagi masih ada yang nangkring di pikiran. 

Nulis apa ya? -_-

Karena banyak ide yang hilir mudik,  keinginan mengembangkannya menjadi sebuah artikel makin besar. Tapi apa daya, sudah beberapa upaya dicoba. Tapi belum juga berhasil.

Mencoba menulis artikel dari list ide yang ada di note


Karena rasa rindu pada rumah sederhana dunia maya, perempuanapril.com jadi saya berusaha meng-update perabotnya. Perabot yang harus rutin diperbaharui tentu saja artikelnya.

Sebenarnya lebih cocok kalau sebuah artikel blog itu disebut  taman di depan rumah. Ketika dilihat orang lain yang singgah, bisa menciptakan suasana menyenangkan. Bahkan orang tak sengaja lewat sekilas saja bisa mendapat udara segarnya.


Mencoba mengembangkan sebuah ide menjadi artikel ternyata sulit, saat diri tidak benar-benar sehat. Satu dua paragraf jadi tapi tiba-tiba mentok kehilangan kata-kata untuk melanjutkan. Akhirnya menyerah pada satu artikel. Selang beberapa waktu coba lagi dengan ide yang berbeda. Tapi tetap berakhir sama, idenya mentok lagi. 

Sudah merasa tidak bisa melanjutkan semua ini. Akhirnya tutup note, letakkan hp, tidur (lagi) I. -_-

Mencari ide lain dari sosial media 


Belum sampai menyerah, karena saking berat rindunya. Mencoba cari ide lain, dari sosial media. Siapa tahu ide fresh yang tiba-tiba muncul akan lebih mudah ditakhlukan. 


Buka facebook berharap dapat pencerahan dari ribuan teman dan berbagai komunitas disana. Pengalaman juga pernah berhasil mengembangkan ide dari sana. Scroll ke bawah terus sampai bosan. Banyak yang menarik, tapi malah ide tak ada yang nempel sama sekali. Merasa gagal akhirnya tutup facebook.

Berganti sosial media lain, instagram. Masih tetap berharap menemukan pencerahan disana. Nonton upload-an foto dan video teman-teman dan intip-intip eksplor, disana seharusnya lebih banyak pancingan ide. Betah sih, tapi ide labas begitu saja.  Malah asik nonton video-video kuliner yang selalu mengancam gagalnya program diet yang akan dilakukan "besok".

Baiklah sepertinya di sosial media lain juga akan berakhir sama. Akhirnya diputuskan untuk tutup sosial media, letakkan hp, tidur (lagi) II. -_-"

Merefresh informasi dengan blogwalking 


Artikel belum berhasil ditelurkan tapi keinginan update artikel masih ada. Ambil hp lagi, buka akun google + yang isinya teman-teman blogger. Mulai berselancar disana. Karena tak mau ketinggalan informasi dan cerita yang dibagikan. Tentu saja sambil mencari-cari ide, siapa tahu ada yang menginspirasi.

Walaupun belum semuanya disambangi tapi sudah lebih fresh karena banyak yang baru dan seru. Apalagi postingan tentang jalan-jalan. Walaupun aslinya mupeng alias muka pengen tapi setidaknya mood menjadi segar setelah melihat foto yang ditampilkan di postingannya juga segar.


Tapi ya, belum juga ada ide yang bisa dikembangkan setelah blogwalking. Tapi keinginan membuat artikel makin besar lagi. Energi positifnya blogger terserap dengan baik. :D

***
Kiat-kiat yang terlintas di pikiran sudah dicoba untuk memancing ide keluar. Tapi ternyata belum juga berhasil menghasilkan sebuah artikel. Karena tetap ngeyel, maka dibukalah aplikasi note lagi. Coba ketik kalimat, dihapus lagi. Beberapa kali peristiwa ketik-hapus berlangsung. Akhirnya malah yang tertulis adalah satu kata, "BINGUNG".

Dari satu kata bingung lalu diteruskan jadi banyak kata-kata. Beberapa paragraf akhirnya terbentuk. Si bingung makin memiliki deskripsi yang spesifik. 

Dan.. loh.. kok.. malah jadi artikel.. :D
Walaupun seadanya tapi si kata bingung telah berkembang menjadi artikel. Ternyata benar, kalau bingung itu harus berpegangan sesuatu. Blogger bingung, pegangan hp lalu jadilah artikel :D
Terimakasih bing, saya akhirnya update. (*o*)9

Tetap Sayang dan Bangga Apapun Cerita dan Keadaannya Dulu

Berdasarkan hasil survey yang tidak ilmiah, dengan mengambil sampel dari saudara dan teman-teman di dunia nyata atau dunia bunda maya. Diperoleh hasil bahwa, doa yang selalu diutarakan kepada pengantin baru adalah "Samawa dan cepat dapat momongan ya :D"


Hal itu juga biasanya sesuai dengan harapan dari pasangan suami istri yang masih anget-angetnya ini. Mempunyai momongan tidak lama setelah menikah. Ya, walaupun ada juga malah yang udah nyicil diawal. Tapi artikel ini hanya akan membahas anak dari kisah yang wajar saja. Menikah lalu hamil dan punya anak.

Kehamilan pertama selalu mengundang haru untuk pasangan baru. Yah, wajar lah namanya masih perdana pasti bahagianya minta ampun. Bahkan ada juga yang saking bahagianya sampai menitikkan air mata. Apalagi kalau menantinya tidak sebentar dan sudah dilalui dengan berbagai usaha.

Biasanya si calon ibu kalau terharu, tangan kanan menunjukkan test pack bergaris 2 kepada suami. Sedangkan tangan kiri menutup mulutnya sambil menangis. Raut wajahnya jadi tidak karu-karuan. Karena menangis tapi sambil menahan senyum. Hidung kempas-kempis campur umbel dan matanya kriyip-kriyip berair. Duh, terharu banget pasti.

Ketika itu terjadi, calon ayahnya terbelalak dan melongo mulutnya tapi malah tidak ditutupi dengan tangan kirinya. Padahal ia meraih test pack itu hanya dengan tangan kanan. Hmmm.. Untung tidak ada lalat yang usil masuk ke mulut.

Untuk pengalaman ini, saya saksikan langsung 3 Tahun yang lalu. Mbak ipar dan abang pertama yang baru beberapa bulan menikah, akhirnya segera akan memiliki momongan. Anak pertama yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya.

Lalu yang terjadi adalah abang yang memang orangnya usil dan selalu berekspresi, langsung kegirangan. Dia teriak "Woooww" sambil matanya melotot ke test pack. Di Lanjut roll depan di kasur satu kali. Berdiri dan mengangkat kedua tangannya tinggi lalu dia bilang ke saya, "Aku hebat." Hahahhaha 


Setelah anak pertama yang berjenis kelamin laki-laki lahir, benar saja dia sangat dimanja. Karena dia sebagai cucu pertama diantara dua nenek dan dua kakeknya. Dimana-mana jadi idola.

Nah, karena sekarang anaknya sudah berusia tiga tahun. Seharusnya sudah cocok kalau punya adik lagi. Beberapa kali saya tanya, "Mbak kapan Gaza mau punya adik lagi?". "Waduh.. pengen sih, tapi agak nanti ajalah." Jawabnya.

Tiba-tiba muncul pikiran di dalam otak saya, memang kenapa sih kok anak kedua malah nanti-nanti aja? Waktu anak pertama diusahakan banget kan. Kenapa setelah anak pertama sepertinya anak selanjutnya tidak terlalu dinantikan. Ini tidak sampai benar-benar saya tanyakan, hanya dibatin saja.

Lain kasus lagi, dari beberapa teman dan abang kedua saya. Setelah kakak ipar melahirnya dan anaknya belum genap berusia satu tahun, istrinya sudah hamil lagi. Waktu saya tanya, "Wah kok cepet mbak, emang diprogram gitu ya? Biar sekalian?" Dia menjawab, "Hehe.. nggak diprogram sih. Tapi memang udah dikasih lagi ini." Dalam hati saya bilang, "Ohh... kebobolan." Sekali lagi itu cuma saya batin saja.

Dari kedua kejadian itu jadi saya mikir. Ternyata anak kedua dan selanjutnya itu jarang yang memang diprogram ya kehamilannya. Malah seringnya kebobolan. Tapi kalau anak kedua masih banyak yang memang diprogram sih. Lalu...

Saya ini kan anak ketiga, jadi... -_-'

Karena penasaran dan sebenarnya hanya ingin tahu saja. Saya juga tidak akan melakukan apa-apa setelah tahu. Saat sedang berdua dengan ibu, sambil ngemil keripik singkong saya tanya. "Bu, dulu waktu hamil anak ketiga (nggak to the point) memang diprogram hamil apa nggak sih?" Sebentar ibu diam, sepertinya sedang memilih jawaban terbaik. 

Sambil senyum ibu jawab, "Dulu sih memang pas berhenti KB karena kalau KB jadi gampang sakit, trus nggak lama hamil Anggun. Memang kenapa?" Sambil meringis saya jawab, "Nggak apa-apa :D"

Dalam batin lagi saya simpulkan, jadi ibu kebobolan waktu hamil anak ketiga (saya). Haha.. Sesuai dugaan. Tapi setelah saya ingat lagi, semua anaknya tetap diberi kasih sayang yang sama oleh kedua orang tua saya. 

Apalagi saya anak perempuan satu-satunya dan punya dua orang kakak laki-laki. Kata orang sih, pasti dimanja banget. Sebenarnya disebut dimanja tidak, tapi saya merasa beruntung. Karena merasa sangat dijaga dan dapat banyak perhatian dari orang terdekat.

Dan dulu juga babe selalu cerita tentang sebelum saya ada. Karena anaknya laki-laki semua, jadi tidak akan berhenti punya anak kalau belum punya anak perempuan. Untungnya urutan ketiga langsung dikabulkan, coba kalau sampai urutan 11. :D
Dari cerita babe ternyata saya nggak kebobolan-kebobolan banget lah. Karena masih diharapkan walaupun di waktu yang tidak direncanakan.

Sampai saat ini alasan kenapa banyak orang tua menunda memiki anak kedua ketiga dan seterusnya, saya belum tahu pasti. Mungkin karena dalam proses mendidiknya merasa belum cukup. Atau bagaimana beratnya menjaga bayi saya juga belum benar-benar tahu. Karena belum merasakan menjadi orang tua.

Tapi bagaimanapun anak adalah anugrah dan titipan berharga. Itu yang saya lihat dari orang-orang yang sudah mempunyai anak. Rela memberikan segala yang terbaik untuk anaknya tanpa mengharap imbalan.

Banyak yang menginginkan anak tapi belum diberi izin oleh sang Pemilik izin. Sebaliknya ada juga yang diberi kepercayaan untuk mendidik banyak anak.

Teringat dulu dosen yang tidak sengaja menceritakan anak keduanya yang sulit dinasihati. Beliau bilang kalau hal itu karena kesalahannya. Dulu saat mengandung anak keduanya ini, beliau seperti menyalahkan keadaan. Karena anak pertama masih berumur satu tahun.

Beberapa kali menyalahkan suami karena hal itu. Beliau saja saat bercerita dengan sedikit terisak, tapi air mata tidak sampai menetes. Sesak begitulah. Entah bagaimana beliau bisa menyimpulkan hal itu menjadi kesalahan yang harus dipertanggungjawabkannya. Karena ketidakikhlasan mengandung anak kedua sehingga anaknya sulit beliau kendalikan.

Mungkin itu hanya sugesti beliau atau mungkin memang berhubungan. Karena antara ibu dan anak ada ikatan batin yang tidak terlihat. Ikatan batin yang sehat pasti akan menghasilkan sikap yang sehat juga. Wallohualam.


Bagaimanapun ceritanya, mau kebobolan atau memang tendangan bunuh diri. Orang tua akan selalu menyayangi anak-anaknya. Dan saya sebagai anak juga sayang dan bangga menjadi anak ketiga dari kedua orang tua saya. Karena bila bukan anak beliau berdua, saya tidak akan menjadi saya yang hari ini bisa mempunyai rasa bangga. Saya saja dulu yang bangga, mudah-mudahan nanti gantian. Orang tua yang bangga terhadap saya. Titik dua bintang bu, pak :*