Kombinasi Antara Kesadaran Peran dari Guru, Siswa dan Orang Tua dalam Pendidikan

Memutuskan untuk melanjutkan studi setelah lulus SMA menjadi hal yang membingungkan dulu. Harus memilih jurusan apa saat kuliah. Karena memang saat itu perencanaannya kurang baik. Malah cenderung hanya ikut-ikutan teman.

Setelah mendapat saran dari guru dan orang tua akhirnya ditentukan satu pilihan. Melanjutkan sekolah di fakultas keguruan. Berharap bisa menjadi seorang guru yang bahkan belum terbayang bagaimana cara menjalaninya.


Pertimbangan dari ibu yang merupakan pendapat berdasarkan pengalaman. Dimana ibu berprofesi sebagai seorang guru. Beliau bilang bahwa jika seorang perempuan akan lebih cocok berprofesi sebagai guru.

"Kalau menurut ibu, perempuan itu cocok jadi guru. Kenapa? Karena nanti saat berumah tangga. Saat tanggung jawabnya bertambah, yaitu anak dan suami akan lebih mudah membagi waktunya. Coba bayangkan, kalau profesi dibidang kesehatan. Anak kita sedang sakit, trus malam-malam ada pasien yang datang. Apa nggak sedih? Kalau guru kan kerjanya cuma setengah hari. Banyak liburnya juga. Misalnya anak sakit bisa izin tidak mengajar. Tapi murid tidak terlalu dirugikan dengan diberi tugas sebagai pengganti sementara."

Atas pemikiran simpel dari ibu akhirnya saya mantap dan akhirnya nyemplung juga ke fakultas keguruan. Pekerjaan mulia, kerja setengah hari, banyak libur, dan bisa mengurus anak dan suami (saat sudah berumah tangga).

Simpel banget. Bayangan saya dulu menjadi guru sangat mudah saja saat menjalani. Karena pekerjaan yang tidak perlu lembur.

Tapi setelah lulus dan benar-benar menjadi guru, rasanya tidak sesimpel ekspektasi awal. Guru yang sebelum mengajar sudah dipenuhi tuntutan seperangkat pembelajaran. Masih harus menghadapi murid-murid modernisasinya.

Guru mengajar siswa di sekolah
Mengajar siswa modernisasi

Bukti dari ketidak simpelan pengajar sudah banyak viral di pemberitaan online. Guru yang mencoba memberi hukuman pada murid demi kedisiplinan, kemudian masuk bui karena orang tua tidak terima.

Paling parah dan sedang heboh diberitakan adalah seorang guru yang meninggal setelah dianiaya muridnya sendiri. Miris dan teriris mengetahui orang yang satu profesi berakhir tragis dalam tugasnya.

Hormati gurumu sayangi teman. Itulah tandanya kau murid budiman
Kenyataan berkata lain dari pesan lirik lagu legenda anak-anak sepanjang masa itu. Guru budi harus gugur ditangan murid jagoannya. 

Apa sebenarnya yang salah dari semua yang terjadi? Apa guru memang sudah tak begitu penting lagi? Apa perlu ada mata kuliah bela diri di fakultas keguruan? Apa memang semua sudah bisa tanpa bantuan guru? Apa karena sekarang banyak yang "bisa" berkat dewa gadget dan malaikat internet?

Dari sekian kasus antara guru dan murid harusnya menjadi sebuah perenungan. Kenapa bisa sangat berubah antara dulu dan sekarang? Tak bisakah moral dan sopan santun tetap lestari di jiwa tiap generasi?

Guru harus instropeksi diri, sudah menyadari apa saja tanggungjawab dan apa saja kesalah langkahannya.


Paling utama adalah guru yang harus melakukan refleksi diri. Menyadari apa tugas dari profesinya. Guru dituntut tidak hanya mengajar, tapi juga mendidik, mengasuh dan membentuk karakter diri siswa.

Guru mengajar di kelas sma
Guru mencari kesalahan mengajar

Menciptakan suasana belajar yang nyaman dan welas asih. Tidak melulu tentang hukuman karena kesalahan tapi ketika ada prestasi, reward tak pernah dilancarkan.

Guru sebagai peran utama yang menciptakan adanya rasa membutuhkan dari siswa. Perasaan butuh akan muncul karena ada rasa nyaman dan tenang. Jika suasana sekolah seperti dalam penjara, apa mungkin ada rasa membutuhkan. Malah rasa yang tertanam adalah rasa terbebani, terkekang dan terpaksa.

Hal ini sebenarnya sedang saya pelajari. Mencari bagaimana cara memperoleh hubungan saling membutuhkan. Agar sekat antara guru dan siswa tidak semakin menebal. Bukan sekedar mengajar, selesai lalu pulang. Tapi juga bukan berarti terlalu ikut campur terlalu dalam di kehidupannya.

Memilih sabar dalam sikap tegas menghadapi anak yang menggemaskan (baca: kemeplak, kemampleng dan njemotos). Dibanding memperlihatkan kemarahan yang meluap.

Guru yang diberi wewenang untuk mendidik oleh orang tua harus bekerja sama satu sama lain. Melaporkan perkembangan anak kepada orang tua atau wali selama di sekolah. 

Siswa harus menyadari bahwa dirinya sebagai anak dan pelajar


Setelah guru mampu menempatkan tugasnya dengan baik. Maka siswa akan tahu batas dan sikap yang bagaimana ia harus tanamkan.

Siswa tidur di dalam kelas saat belajar
Siswa mengetahui kapasitasnya 

Selama seseorang berproses di sekolah, ia memiliki dua peran dalam hidupnya. Sebagai anak dan sebagai pelajar. Ia perlu menyadari bahwa dirinya harus menjalani peran keduanya dalam satu waktu. 

Bukan hanya di rumah ia berperan sebagai anak, di sekolahpun sama. Menjadi seorang anak yang diatur dalam seperangkat peraturan sekolah yang wajib ia taati. Peraturan dibuat untuk ditaati bukan dilanggar seperti guyonan yang sering diterapkan selama ini.

Sebagai seorang pelajar ia harus menjaga sikapnya di dalam maupun di luar sekolah. Ia harus mencerminkan sikap intelektual pada masyarakat. Sehingga rasa saling menghargai satu sama lain akan tertanam dalam dirinya. Hingga akhirnya terbiasa dan diterapkan terus menerus setelah ia lulus dari studi formal.

Semua itu tidak lepas dari peran guru di sekolah. Siswa harus memiliki rasa memiliki dan membutuhkan dukungan guru selama studi. Tempatkan guru sebagai orang tua kedua agar sekat tidak terlalu renggang tapi tetap ada batasan.

Tidak semua anak di jaman ini yang kehilangan sopan santunnya. Tapi juga tidak sedikit anak yang mencerminkan kemunduran dari sikap terpuji ini. Mereka terlihat sedang mencari perhatian lebih dengan melakukan hal yang semaunya sendiri. Maka sebaiknya beri perhatian lebih pada anak tipe ini.

Peran orang tua sebagai pendorong semangat anak bersekolah harus mendukung kedua belah pihak


Orang tua membutuhkan bantuan guru dalam proses belajar di sekolah. Tidak cukup hanya berpatokan pada, "Saya sudah bayar mahal untuk sekolah anak." Lalu menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya pada sekolah.

Orang tua harus terus memantau perkembangan anak selama menjalani studi. Perkembangan dan ketertinggalan pada proses belajar anak harus dipahami.

Memposisikan diri sebagai orang yang adil dalam menyikapi setiap hal yang terjadi. Menjembatani antara anak dan pihak sekolah.

Bila anak didapati mengalami masalah sulit di sekolah, orang tua harus tahu betul akar masalahnya. Lalu mengkomunikasikan dengan pihak sekolah. Sehingga diperoleh solusi untuk menyelamatkan anak dari masalah yang makin parah.

Rel kereta api ayah dan anak bergandengan tangan
Orang tua menjembatani siswa dan guru

Agar mudah mengetahui hal sulit yang sedang dihadapi anak, tentu orang tua juga harus menjadi teman baiknya. Dengan demikian anak akan leluasa mengutarakan beban yang sedang ditanggungnya. Mengenali anaknya dengan baik maka bila ada perubahan tingkah laku dari anak, akan segera dideteksi dan diketahui penyebabnya.

***
Susah-susah gampang sebenarnya tugas mendidik. Baik mendidik diri sendiri, anak ataupun siswa. Hal yang masih terus harus dipelajari.  Perlu masukan dari pengalaman guru senior juga.

Memulai dengan menyadari dan menempatkan tugas dan kewajibannya dengan baik. Serta mengkombinasikan semua peran dalam komposisi yang adil. 

Sudah terlanjur ada dinding pemisah antara siswa dan guru. Kadang dinding tersebut merubah pandangan keduanya. Menempatkan posisi sebagai polisi dan buronan. Sehingga guru dilihat sebagai orang yang perlu diwaspadai siswa.

Harapan tentu saja tidak ingin ada lagi cerita-cerita tragis dalam dunia pendidikan. Hanya terdengar cerita tentang prestasi-prestasi anak bangsa yang tersebar di berita. Moral dan sopan santun yang selalu tersemat pada setiap diri generasi-generasi muda.

Bila jiwa dan sikap yang cerdas sudah melekat pasti akan menjauhkan diri dari hal merugikan. Ada cerita bandel pun, masih dalam batas wajar. Sehingga cerita saat sekolah akan selalu terkenang indah dalam memori. Kemudian dengan bahagia, diceritakan pada anak dan cucu penerus nanti. Lalu diterapkan dengan bijak saat periodenya bergulir berdasarkan pengalaman dari tetuanya. Bukankah begitu? (^_^,)9

7 Hal yang Biasanya Dialami Mahasiswa Saat Kuliah Kerja Nyata (KKN)

Kuliah kerja nyata (KKN) adalah bentuk kegiatan pengabdian mahasiswa kepada masyarakat setingkat desa. Demi mewujudkan tri dharma perguruan tinggi, pendidikan, penelitian dan pengabdian.

Kuliah kerja nyata universitas lampung
Kuliah Kerja Nyata

Tema ini muncul tiba-tiba, waktu diperjalanan mampir ke mini market. Tujuannya membeli minuman dingin berwarna yang rasanya manis. Selesai memilih, saya antri dikasir untuk membayar. 

Harus antri karena masih ada sepasang muda mudi yang sedang bertransaksi dengan mbak kasir. Kaos yang dipakai keduanya jadi menarik perhatian saya. Karena dibagian belakang kaos mereka ada lambang besar Perguruan tinggi, Universitas Lampung. Tulisan dibagian bawah lambangnya menunjukkan bahwa mereka adalah mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan KKN.

Jadi teringat dulu pernah seperti mereka. Melaksanakan kegiatan KKN selama 40 hari di semester 6 demi gelar sarjana. Banyak suka dukanya, lucu menggemaskan juga. Beberapa kejadian yang paling  teringat dari pengalaman pribadi dan cerita pengalaman teman-teman. Sedikitnya ada 7 hal yang biasanya akan dialami mahasiswa saat KKN.

1. Tiba-tiba harus mengenal beraneka macam karakter orang dalam satu kelompok

Sebelum diberangkatkan ke tempat tujuan KKN oleh kampus akan diberi bekal ilmu terlebih dahulu. Tentang apa saja yang harus diketahui dan dilakukan disana. Jadi disinilah para anggota mengetahui siapa saja timnya.

Anggota dalam satu kelompok KKN berasal dari berbagai jurusan dan fakultas berbeda. Bila sebelumnya memang tidak saling kenal maka pertemuan pertamanya adalah saat pembekalan KKN tersebut.

Selama 40 hari seperti dipaksa harus mengenal, memahami, bahkan mempercayai tiap anggotanya. Bermacam karakter yang kadang aneh dan berbeda tiap individunya.

Anggota kelompok KKN berjumlah 12 orang dari berbagai jurusan. Berbeda dari daerah lain, desa kami ditempati dua kelompok KKN, jadi total jumlah anggotanya adalah 24 orang. Tiap kepala yang punya isi masing-masing dan beda-beda, harus tinggal dalam satu hunian tanpa dipisah gender.

Aktifitas rutin dari bangun tidur dengan muka bantal sampai malam akan tidur lagi. Hal itu untuk ke 24 orang ini sudah saling tahu dan akhirnya terbiasa. Bila dihitung 40 hari adalah waktu yang cepat dan singkat. Tapi saat dijalani menjadi hal yang sangat lama dan panjang. Suasana yang seharusnya damai, tak jarang terjadi cek cok dan tangis-tangisan. 

2. Kesusahan mendapat sinyal, ojek, dan angkutan.

Bentuk pengabdian masyarakat yang diposisikan di desa, bahkan terpencil. Sudah dapat dibayangkan fasilitas umum akan kurang menunjang disana. Transportasi umum ada tapi sangat jarang ditemui. Jadi kemana-mana harus mengandalkan kaki. 

Untungnya hanya diawal karena setelah seminggu disana, sudah ada beberapa anggota yang membawa kendaraan bermotor setelah kembali dari rumahnya. Jadi bisa lebih enteng bepergian.

Sinyal handphone hanya untuk beberapa provider saja yang sinyalnya kuat. Beberapa lainnya harus siap dengan cerita sms dikirim malam hari dan baru diterima siang harinya. Lalu dibalas sore maka akan diterima ke esokan paginya. Jadi bila terbiasa makan harus menunggu diingatkan oleh pacar maka hal itu akan sangat menyiksa lambung anda. :D

3. Mempunyai profesi-profesi baru yang tidak sesuai dengan jurusan kuliah

Program dan kegiatan yang telah disepakati dan dibentuk akan dilaksanakan oleh masing-masing penanggungjawab. Kegiatan selalu berinteraksi dengan masyarakat dan disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing tempat.

Tidak semua jurusan dan fakultas akan sesuai dengan kebutuhan di desa tersebut. Misalnya dari fakultas hukum mengajar TPA di masjid. Hal itu karena mahasiswa tersebut mampu membaca dan mengajarkan Al quran dengan baik. 

Mahasiswa jurusan manajemen menjadi instruktur senam minggu pagi. Tidak menjadi masalah karena ia rutin mengikuti senam di tempat tinggal asalnya, jadi ia mampu mengajarkan senam ibu-ibu di kegiatan KKN. Penerapan ilmu yang tidak diajarkan di jurusannya tapi ilmu yang didapat dari kehidupannya di luar kampus.

4. Kalang kabut saat dosen pembimbing lapangan inspeksi mendadak (sidak)

Kuliah kerja nyantai juga kadang dijadikan plesetan dari akronim KKN. Karena mahasiswa yang kadang masih bingung harus melakukan apa di tempat yang baru. Kadang kegiatan sudah dilakukan atau belum jadwalnya dilakukan jadi santai saja leha-leha di rumah.

Beberapa kali aman, tapi tidak saat inspeksi mendadak dosen pembimbing lapangan dilakukan. Tentu tanpa komando dan aba-aba. Semua kalang kabut mencari alasan sibuk masing-masing. Memutar otak menyiapkan alasan dan jawaban saat nanti ditanya-tanya dosen pembimbingnya.

Setelah dosen pulang, semua anggotanya akan otomatis melemaskan tubuh dengan hembusan napas panjang.
"Haaahhhh.. Lega. Hahaha" 

5. Terbentuk banyak kelompok di dalam kelompok

Pasti akan saling terbentuk kecocokan dan ketidakcocokan antar individu. Yang merasa saling cocok akan semakin akrab dan akhirnya membentuk kelompok atau bahasa gaulnya adalah geng. Lalu tanpa disadari akan terbentuk banyak kelompok berdasarkan tingkat kecocokan yang besar dengan anggotanya.

Sebenarnya lebih baik seperti itu, agar selama kegiatan berlangsung semuanya merasa nyaman dengan caranya masing-masing. Asal tidak ada satu geng yang mendominasi kelompok dengan tujuan menguasai.

Pengalaman KKN dulu terbentuk 5 kelompok dalam satu rumah. Menjadi teman satu kamar, teman curhat walau tetap masih ada yang tidak akur. Tiap kamar berisi 4 sampai 6 orang dengan ukuran ruang kamar 4 x 4 meter. 

Tidur beralas kasur tipis dengan posisi hanya bisa satu gaya. Karena saat tidak sadar tidur dengan gaya bebas akan disepak teman tidur sebelahnya. Ruangan itu bukan hanya untuk tidur saja, tapi juga tempat untuk menumpuk barang bawaan ke enam orang penghuninya ini. Yap, semacam penampungan korban bencana alam memang. :D

6. Anggota kelompok dominan mempunyai jadwal yang sama, jadi banyak yang dilakukan bersama

Karena kegiatan sudah teragenda jadi jadwal pokok kelompok ini hampir sama. Tiap hari minggu menjadi seperti jadwal cuci baju bersama. Tempat laundry sudah jangan terlalu diharapkan. Di desa tempat KKN dulu belum ada. Jadi semua cuci baju sendiri. Sampai proses penjemuranpun berderet-deret. Jadi tidak heran kalau ada seragam atau baju dalam yang harus tertukar karena mirip. Untungnya beda ukuran. Heeee...

Airnya? Ada sumur di rumah dengan mesin sanyo yang sedang rusak. Menimbalah kami kalau ingin buang air, mandi dan cuci baju. Walaupun ada anggota laki-laki tapi tidak semua pekerjaan berat diserahkan kepada mereka semua. Tepatnya kalau masih bisa dikerjakan sendiri ya lakukanlah seperti menimba air itu tadi, walaupun perempuan.

Lucunya, ada beberapa yang baru pertama kali menimba air seperti ini. Jadi karena tidak kuat kalau harus menahan beban timbaan dengan cara menarik tali berulang-ulang. Setelah ember di dalam sumur sudah terisi, tali timbaan itu ditariknya panjang-panjang menjauh dari sumur. Lalu dibantu teman lainnya untuk mengambil ember hasil timbaannya. Setelah itu baru dipindahkan airnya ke bak penampungan. Coba ada Dilan disana, pasti bilang, "Dilan, ternyata menimba air itu berat aku nggak kuat. Udah kamu aja ya."

7. Kisah cinta sepanjang KKN, berlanjut ke pelaminan, atau juga ada yang cinta kandas karena KKN. 

Kisah kasih nyata, kadang ada yang menyebutkannya seperti itu dengan nada bercanda. Karena memang setiap periode KKN pasti akan ada cerita asmara di dalamnya. Entah dari sesama anggota kelompok, dengan anggota antar kelompok atau anggota KKN dan warga.

Hal itu sangat mungkin terjadi, karena rutinitas yang selalu dilakukan bersama. Makan, minum, mengobrol, bercanda, kerja dan lain sebagainya. Hingga akhirnya menumbuhkan benih-benih cinta.

Untuk yang sama-sama single, tidak akan jadi masalah, malah justru bahagia. Tapi ada juga yang sudah saling mempunyai pacar tapi masih terlibat cinta lokasi di tempat KKN. Ada yang aman saja dan berakhir hanya sampai kegiatan KKN selesai. Tapi ada juga pacar barunya yang sampai kena damprat pacar pertama. Lucu. :D

Paling so sweet itu ada yang dipertemukan di lokasi KKN dan setelah lulus kuliah berakhir dalam satu rumah tangga. Tapi juga ada yang paling pahit yaitu ketahuan selingkuh dari pacarnya kemudian putus. Tapi pada akhirnya, selingkuhannya menikah dengan orang lain. :D

***
Begitulah beberapa cerita yang akan dialami mahasiswa yang sedang berkegiatan KKN. Berdasarkan pengalaman yang sudah dilewati dan dilengkapi cerita teman dengan kegiatan yang sama. Untuk cerita dan kisah detailnya pasti berbeda dan punya versi masing-masing. Tapi secara garis besar, semuanya sama seperti yang telah dijelaskan di atas.
Semua itu pengalaman yang sangat berharga, dimana diri harus bisa beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru. Mampu menempatkan dan menghilangkan kebiasaan yang tidak sesuai di tempat baru. Walaupun untuk penerapan ilmu belum maksimal tapi setidaknya diriku pernah berjuang sudah punya cerita mengabdi. Sekian.   \(^.^)/